[sedikit catatan dari diskusi Indonesia Endangered Species Day, diselenggarakan oleh UKF-IPB dan ALAMI, 16 September 2006]

- Pemahaman yang kurang tepat
Pada suatu kesempatan diskusi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bogor, tersebutlah dalam kata sambutan dari seorang ahli setempat yang mengatakan bahwa “Kita manusia yang tinggal di kota adalah manusia ekonomi, berbagai hal dinilai dengan uang”. Disebutkan pula bahwa “Jauh dari kota, di suatu tempat pinggiran hutan biasanya manusia di sana adalah manusia ekologi, mereka sejak dulu sudah memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya secara langsung, Sehingga hal tersebut adalah normal, dan tidak perlu dilarang. Misalnya masyarakat lokal yang masih mengkonsumsi satwa liar tertentu, seperti Yaki. Itu adalah alami, tidak perlu dilarang. Biarkanlah mereka berkembang sebagai manusia ekologi”.
Apakah pernyataan tersebut tepat dan arif?
Jawabannya adalah relatif, namun secara umum bisa dikatakan kurang tepat. Kita setuju pernyataan bahwa masyarakat tradisional, pada umumnya masih memiliki berhubungan yang kuat dalam pemanfaatan hutan dan sumberdaya alam lainnya. Mereka umumnya memiliki norma adat atau kearifan tradisional yang mereka yakini. Hal tersebut memang hak mereka, dan tetap mempertimbangkan keseimbangan alam adalah catatan utamanya.
- Prinsip keseimbangan “ekonomi” dan “ekologi”: sebuah dinamika
Ketika kita membicarakan fenomena ekologi, yang di dalamnya ada keseimbangan alami dari semua komponen ekosistem yang ada di dalamnya, maka kurang tepat untuk melihat ekonomi dan ekologi dari sudut yang berlawanan. Justru sudut pandang harus kita ubah, kita harus lihat bahwa manusia, sebagai makhluk beradab dan mengklaim memiliki kecerdasan paling tinggi di antara makhluk lainnya, maka ketika memanfaatkan sumberdaya alam atau dengan kata lain sebagai manusia ekonomi, tetap juga tetap mempertimbangkan keseimbangan ekologi. Perlu diingat, bahwa keseimbangan ekologi juga bergeser dengan berjalannya waktu. Mungkin pernyataan bahwa suatu kelompok masyarakat yang mengkonsumsi Yaki itu adalah manusia ekologi yang tidak perlu dilarang, adalah tepat pada waktu populasi manusia di tempat tersebut masih belum terlalu besar, sumberdaya alam masih cukup melimpah, populasi Yaki pun bisa seimbang kembali. Pernyataan menjadi kurang tepat ketika hal tersebut terjadi pada saat ini, dimana pemanfaatann sumberdaya alam terjadi secara berlebihan. Kemampuan alam untuk merespon kepada kondisi yang seimbang juga terbatas, demikian pula pemulihan populasi Yaki secara alami. Pada tataran ini, mereka sudah tidak berbeda dengan yang dimaksud sebagai manusia ekonomi. Yang berbeda hanyalah tempat di mana proses tersebut berlangsung. Konsep mereka sebagai manusia ekologi sudah bergeser.
Lalu apa yang terjadi? Justru itulah, sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara konsep ekologi dan ekonomi. Kita sebagai manusia adalah sekaligus berperan sebagai keduanya, sebagai manusia ekonomi dan ekologi. Oleh karena itu, kalau dilihat dari prinsip pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan, maka dirasa perlu ada pendekatan baru dalam pemanfaatan tersebut, di samping norma-norma yang ada. Keseimbangan ekosistem tetap harus dipertahankan.
Kalau pun manusia harus mengkonsumsi daging, kalau bisa dari jenis yang bisa dibudidayakan kenapa tidak? Kenapa harus memburu satwaliar? Apalagi jenis tersebut sudah termasuk jenis dilindungi Undang-undang oleh Pemerintah RI. Termasuk juga keperluan “tengkorak” Yaki untuk upacara adat, haruskah tengkorak yang asli dari hasil berburu di alam? Atau barangkali bisa dibuat tengkorak imitasi dari bahan resin?
Belum lagi masalah potensi penularan penyakit dengan mengkonsumsi daging satwaliar dari alam, adalah hal lain yang perlu dipertimbangkan.
- Hakekat pemahaman keseimbangan alam dan fitrah manusia sebagai khalifah
Hal-hal tersebut bukankah berarti membatasi pemanfaatan sumberdaya alam? Bukannya kita diperbolehkan memanfaatkan alam ini?
Benar, kita tidak bisa hidup tanpa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Namun sekali lagi, kita sebagai makhluk berbudaya yang dikaruniai akal dan fikiran, akan lebih arif dan bijaksana apabila kita juga memperhatikan kesinambungan dalam pemanfaatan. Bahasa kerennya ikut berpartisipasi dalam konservasi, karena hakekat konservasi bukan hanya melindungi tetapi juga memanfaatkan dengan prinsip kelestarian.
Adalah menarik ketika ada pertanyaan, “Mengapa kita mesti mendiskusikan tentang perlunya perlindungan satwaliar? Bukannya sudah cukup kepada alasan tentang hak hidup semua satwa dan bahwa manusia diperintahkan Tuhan untuk tidak membunuh segala makhluk yang hidup?”
Kembali, kita diuji tentang pertanyaan mendasar, dan tidak bisa lagi dibicarakan tentang manusia ekologi dan manusia ekonomi. Namun demikian ternyata manusia memang sangat unik. Bahkan untuk sesuatu yang sudah jelas digariskan dalam perintah Penciptanya pun, kenyataannya masih terjadi kerusakan akibat ekploitasi sumberdaya alam yang berlebihan.
Ada beberapa pendekatan yang harus kita fahami ketika kita sebagai manusia melakukan hubungan dengan manusia lainnya. Perlu pula disadari bahwa tingkat kepekaan dan pemahaman masing-masing kita sebagai manusia pun cukup beragam. Apalagi di jaman informasi global seperti saat ini, berbagai macam informasi seperti berlomba “menghantam” masyarakat, baik itu informasi yang bersifat positif maupun negatif. Sepertinya, kalau masyarakat tidak dibantu dengan berbagai informasi yang berfungsi untuk menyaring arus informasi yang cukup deras tadi, maka “kerusakan global” juga akan semakin cepat terjadi.
Disadari ataupun tidak, dengan kemampuan manusia yang memiliki kelebihan dari makhluk lainnya, yaitu berkomunikasi dan berfikir, bisa menimbulkan sisi positif dan negatif. Manusia cenderung meniru satu sama lain, bahkan ada yang mengatakan, hal positif hanya ditiru 50%-nya, sedangkan hal negatif ditiru 2 kali lebih banyak [200%]. Betapa dahsyat percepatan “kerusakan global” yang akan terjadi kalau kita berfikir dan bertindak secara gegabah dan tidak bijaksana dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita. Jelaslah, tidak bisa dipertentangkan antara konsep manusia ekonomi dan ekologi lagi.
Kegiatan diskusi, seminar dan segala bentuknya dimaksudkan untuk selalu menularkan semangat akan kebaikan, hidup dengan prinsip menjaga keseimbangan alam dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Mulai dari pengenalan terhadap berbagai fenomena alam yang bisa dilogika ataupun “belum bisa dilogika”, hingga pemahaman proses alam tersebut dengan respon akhir yang diharapkan adalah partisipasi langsung dalam bentuk apapun yang direalisasikan dalam fakir, sikap dan perilaku sehari-hari. Penting juga untuk saling berbagi pengalaman, mengasah kepekaan dan kemampuan, serta belajar berfikir dan berkomunikasi secara positif.
Kita tidak bisa berharap banyak terhadap orang lain, termasuk di dalamnya masyarakat luas, pemerintah, akademisi, pengusaha ataupun kelompok manusia lainnya. Satu-satunya yang bisa kita harapkan, dan kalau perlu dengan sedikit pemaksaan, adalah diri “kita” sendiri. Atau lebih tepatnya adalah “saya”. Segala sesuatu dimulai dari diri sendiri ataupun “saya” tadi, baik itu menjadikan lebih baik ataupun lebih buruk, “saya” juga yang menentukan. Namun yang perlu diingat, “saya” tidak akan bisa mengharap keadaan menjadi lebih baik tanpa usaha dari “saya”, sementara “saya” sendiri belum baik. Dikatakan pula bahwa nasib suatu “kaum”, merekalah yang menentukan, bukan Tuhan.
Harapan terakhir, diri sendiri tetap baik dan selalu berupaya menjadi lebih baik, semoga akan menular dan menjadikan lingkungan sekitar juga lebih baik, hingga lingkungan yang lebih besar lagi. “Kerusakan global” bisa ditekan, keseimbangan alam tetap terjaga.
Apa yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi?
kuswandono@yahoo.com
kuswandono.multiply.com
note: original pictures of orangutan taken from www.cockroach.org.uk | use with permission from Nick & Evie